Selasa, 27 Oktober 2015

Musafir dan Segelas Embun Pagi

Sebelum masuk ke tulisan inti, ijinkan aku berterima kasih sekali kepada seseorang yang sederhana dengan pengalaman luar biasa, yang selalu mengisi gelas kosong di hadapanku dengan hukum alam, catatan perjalanan, tembang-tembang lawas, dan yang satu ini...

Hari itu aku ingat betul sebagai hari sabtu, 10 Oktober 2015. Sebuah acara akan digelar di rumah ibadah tak jauh dari rumahku, namun aku masih digerayangi 2 pertanyaan; berangkat atau tidak.  Sebuah acara yang sudah lama menjadi pertanyaan di kepalaku. Apa isi dari acara tersebut? Tiket masuknya berapa? Ada dresscode? Ya, aku adalah orang yang selalu penasaran dengan hal-hal yang belum dan akan kuketahui. Lama tak bersua, rekanku ini melayangkan pesan di sebuah media sosial anak muda kekinian. Ayo berangkat, cidek ae lho (Ayo berangkat, mumpung dekat). Setelah menimbang dan mengajak diriku sendiri bangun menuju prinsip awal; kau punya waktu sepersekian detik untuk berdiskusi dengan dirimu lalu memutuskan dan diakhiri dengan pilihan; Ya atau Tidak. Ya, aku membalas pesan dengan “Ya.” Tak kusangka hari itu dua keadaan jiwaku sedang bersamaan, tak biasanya seperti ini. Sedih dan bahagia berjalan beriringan. Bahagia? Sudah tentu aku akan mendatangi acara yang sudah lama bersarang tanya di kepala. Sedih? Sedikit agak panjang cerita, namun... beginilah adanya

Sesuatu telah mundur dari serangkaian cerita hubungan antar manusia yang saling berbagi suka duka, atas nama sesuatu yang cliché yaitu jatuh cinta. Di lain hal, sesuatu sedang bertahan meski pondasi-pondasi di sekelilingnya roboh. Dengan tangannyalah sesuatu itu membangun kembali dan menjelma menjadi rumah. Bagaimanapun juga, kehilangan meskipun satu jumlahnya, tetaplah kehilangan. Bagaimana tidak kehilangan, sesuatu yang biasa mengisi gelas kosong di hadapanku itu tiba-tiba pergi sebab aku tak bisa memberi gelasku yang sudah terisi yang bukan darinya. Ya, saat ini gelas yang biasa diisi dengan kejenakaan dan pengetahuan dan sedikit khayalan itu sudah berdebu, tidak pernah diisi lagi. Bukan debu dalam gelas yang kupermasalahkan, namun debu di atas kursi di hadapanku lah yang menjadi jejak-jejak kehilangan. Barangkali benar ucapnya, ia adalah musafir yang selalu melakukan tugasnya dengan baik; membahagiakan. Dan ia adalah musafir, ia pergi dan menebar kebahagiaan yang lain. Semoga dunia senantiasa berwarna akan jenaka dan celetukan khasmu, aku percaya... di belahan bumi dimana sang musafir itu berpijak maka akan ada sesuatu yang baru, yang membahagia dan berjalan seperti adanya. Kini aku berjalan sendiri, dengan 2 jejak kaki dari kaki kanan dan kiriku sendiri. Tak ada pukulan ringan di lengan atau permintaan untuk mengekspresikan kejengkelan. Kini aku berjalan sendiri, tanpa dia yang kusebut sebagai Guru. Di hidupku, semua orang adalah Guru , yang selalu memberiku dengan hal-hal baru dan membuatku sedikit demi sedikit menjadi manusia. Jalan itu akhirnya sunyi juga, jika dulu riuh dengan tawa yang tiada henti, kini sunyi di kepalang lirih. Ya, meski hidupku dikelilingi oleh Guru - Guru , namun setiap Guru memiliki jalan setapak yang berbeda di hidupku. Kini sang Guru Musafir itu telah pergi jauh, menggapainyapun aku tak kuasa, aku menjelma menjadi anak kecil sekali lagi... yang merindukan teman. Ya, teman adalah kesejatian manusia, sebelum cinta datang, sebelum rindu seggunung lalu. Tak apa, sang musafir harus menjadi Guru di tempat lain.

Kembali ke acara di sebuah rumah ibadah. Aku menujunya dengan rekanku ini, sebut saja Guru Plesir, ya karena hidupnya adalah berjalan bersama alam. Kesana dan kemari, selalu ada cerita dan iming-iming baru tiap kali bersua. Parkiran sudah penuh, dan kami parkir sembarang tempat di depan rumah warga. Acara sudah dimulai, syair-syair pujian dan lagu-lagu religi sedang dinyanyikan dengan sangat apik. Alat musik konvensional ditambah dengan gamelan dan biola, pun suling menggema dengan sangat merdu. Di garda belakang kami duduk beralaskan koran, sebentar lalu si Guru Plesir ini mencari kopi, ya... candunya itu. Acarapun dimulai, “tokoh utama” yang dinanti-nanti naik ke atas panggung, diiringi tepuk riuh penonton. Dari kejauhan aku mencoba menerka air mukanya, sebab kacamataku tak lagi membantu untuk jarak sejauh itu. Seperti apakah suara yang akan terdengar? Apakah seperti Robin Williams? Dan apa yang akan beliau utarakan? Ah, aku tidak sabar! Akhirnya beliau duduk bersama dengan beberapa “Bapak Yth” di atas panggung. Dialogpun dimulai, diselingi dengan lagu-lagu kekinian hingga dangdut yang diaransemen ala “Musik Tak Berkamar”. Dialogpun dibuka, suara beliau berat namun tak memberatkan, terdengar syahdu semakin lama, membikin hati bergetar. Satu-dua kalimatnya, bahkan lebih... tlah menghadirkan sudut pandang baru dalam nilai-nilai kehidupan. Agama, politik, hubungan antar manusia, hingga candaan ringan terkait ketidak-sambungan lagu anak-anak. Aku tidak akan tahu apa jadinya jika aku menolak ajakan si Guru Plesir ini, barangkali detik ini aku tidak membuat Bingkai Pikir yang sedang kususun di dinding kamar Gubuk Semesta.

Di tengah-tengah dialog, satu nomer dari band favorit semasa SMP disuguhkan. Lagu yang dulu kukira adalah seseorang yang telah ditinggal pergi kekasihnya, yang menjadi sunyi dan sendiri. Pertanyaan kemanakah kau pergi, cinta? Merupakan frasa yang kutangkap secara mentah pada jaman itu. Namun entahlah, malam itu sebelum tepat tengah... meski bukan dari mulut sang vokalis asli, namun suara itu cukup berjalan lurus tepat ke arah dadaku, ke jantung, dan diedarkannya ke seluruh tubuh. Silahkan menilai aku ini lebay atau berlebihan, namun kala itu mata ini serupa mendung namun tertahan gengsi. Satu per satu potongan lirik kurasakan dalam-dalam, hingga benar-benar merasuk, dan kutambang makna secara dewasa  Jika boleh aku mencoba mengelaborasi liriknya barang sepenggal-dua penggal;

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatkanlah hati cinta...

Perjalanan yang kutempuh kini memanglah sunyi. Bukan maksud hati tak ingin mengakui beberapa Guru yang telah menemani, namun bukankah kita lahir di dunia ini tidak membawa apa-apa, dan tidak bersama siapa-siapa. Bukankah begitu pula cara kita kembali nanti? Aku rasa, dalam siklus kompleks sebuah problematika yang berputar sedemikian rupa, sedih, bahagia, depresi, hingga hampir gilapun itu adalah cara Tuhan berkata kepadaku kuatkanlah hati, cinta. Bahkan ketika satu-dua Guruku pergi tanpa bisa kuraih kembali, Tuhan masih mencintaiku dan berkata kuatkanlah hati,cinta. Boleh jadi saat ini aku bersama Guru Hidup bernama buku-buku, atau Guru Peradaban bernama lelaki tunggal, atau si Guru Plesir yang menumpahkan segala hal-hal terlewat dari acara-acara “tokoh utama” yang belum sempat kulalui, namun perjalanan itu merupakan tugas dari kakiku, dan kakiku tak membawa apa-apa saat datang maupun akan pulang, selain badanku.

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya

Kepada Tuhanku, aku sungguh baru menemukan benang merah dari lagu ini. Embun Pagi, apakah lantas embun tersebut yang hinggap pada daun-daun di pekarang rumah dan tetangga? Yang selalu kulewatkan dengan bangun kesiangan? Apakah lantas embun tersebut yang kutemui di permukaan tenda minus 5 derajat celcius yang membatu serupa es? Barulah aku sadar cara sang pembuat lagu beretorika dalam kata “embun”. Bukankah yang selama ini kita cari jauh-jauh, ternyata dekat? “Embun” itu juga kutafsirkan sebagai tetes-tetes air dari sebuah keran. Bukan lagi yang hinggap di daun atau permukaan tenda, melainkan di mulut, hidung, raut muka, dahi, telinga, kedua tangan dan kaki. Dan begitu sucinya embun itu sebab tak banyak orang mau dan mampu menyentuhnya sebelum cahaya, sebelum pagi tiba. Barangkali di seperempat malam ditemukannya embun pagi bersahaja itu.
Dan penggalan lirik selanjutnya yang sangat arif untuk dielaborasi, biarkan hanya aku saja yang menikmati makna dari sisa liriknya. Belum usai lagu itu dinyanyikan, si Guru Plesir menunjukkan sebuah gambar berisi “ulasan ringkas” dari sang pencipta lagu yang tidak lain adalah anak si “tokoh utama” malam ini. Sebuah deretan kalimat yang semakin meyakinkanku bahwa Tuhan sedang menggenggam erat hidup dengan segala rahasiaNya. Diawali dengan kalimat Untuk orang-orang yang kesepian, untuk orang-orang yang merasa dirinya sendiri... dan ditengahi oleh ada semilir angin dan tetes air yang menemanimu dan ditutup dengan sangat indah Tuhan akan selalu menemanimu dimanapun. Untuk si Guru Plesir yang barangkali sedang membaca ini, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah membawaku ke lingkaran ini, lingkaran antara manusia dengan sang pencipta. Aku tak hafal betul, bagaimana aku memilih agamaku dan menjalani sebagai umat yang taat-belum taat, namun aku telah menemukan alasan untuk tetap memeluknya dan menggali nilai-nilai yang selama ini kutinggalkan. Oh iya, sebagai intermezzo saja, aku mengenal si Guru Plesir ini secara tidak sengaja di sebuah perjalanan trekking 2 jam menuju air terjun tujuh curahan. Berawal dari aku mengeluarkan tape portable dan membuka kaset Bob Dylan, berian si Guru Tokoh asal Ibu Kota. Barangkali jika si Guru Plesir ini tak mengajakku ngobrol, ya mungkin tak kujumpai hal-hal menakjubkan seperti ini. Lalu pada kesempatan berikutnya, si Guru Plesir ini mengajakku ke Telaga ganda di desa yang sudah bertahun-tahun aku tak kesana. Dikenalkannya aku pada penduduk setempat yang sangat ramah, serasa keluarga, dan sekarangpun serasa rumah. Tak lama, diajaknya pula aku mencapai Telaga di atas awan bersama dengan manusia yang warna-warni. Dan tali silaturahmi itu tetap kurajut, dan jangan sampai aku kehilangan sosok Guru Plesir ini, yang sudah mengenalkan pada si “tokoh utama”

Sampai di sini, aku mengerti arti istilah Hablum Minannas. Datang dan pergi, perjumpaan dan perpisahan, akan selalu terjadi sebab hidup ini adalah Bianglala dengan keranjang-keranjangnya sendiri. Sesekali, penumpang harus turun sebab bosan, atau sekadar untuk menikmati indah langit dari bawah saja. Aku tidak menyayangkan kepergian seorang teman baik, rekan, sahabat, bahkan keluarga. Kini aku percaya, kita adalah musafir, dan hijrah adalah tugas masing-masing. Dari segala ocehan ini aku menyimpulkan, jika musafir telah melanjutkan perjalanannya dari hidupku, maka begitupun aku. Mencari nilai dan makna, bertemu dengan musafir-musafir lainnya dan membentuk sebuah keadaan untuk sama-sama belajar jadi manusia. Aku adalah musafir pembawa gelas, yang akan kau isi dengan hal-hal baru, jika kau tak percaya... aku dan Tuhan sedang membuat kolam bahkan telaga dari isi gelas yang kudapat darimu untukmu berenang dan menyegarkan diri kelak. Terima kasih untuk semua Guru yang singgah di hidupku, maupun yang kini melanjutkan perjalannya. Bukan maksud hati untuk tidak menceritakan kalian, Guruku satu per satu, namun saat ini biarlah aku bermesraan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam lagu di atas dengan khusyuk dan nikmat, dan nikmat itu barangkali secara tidak sengaja tercurah dari si Guru Plesir.

Untuk yang selalu memberi dan menerima,
salam hangat dari perjalanan sunyi.

Gubuk Semesta,
Oktober 2015
02:08

Senin, 19 Oktober 2015

Puncak Rasa, Segelas Rindu, dan Perpisahan Tanpa Lengan

Secangkir teh, sebatang kretek, dan buku Pram; Bumi Manusia, menjadi penghuni utama di meja usang Gubuk Semesta pagi hari ini. Kupandangi hamparan padan rumput nan luas di bawah sana, dari balik jendela yang kuhias dengan tanaman-tanaman yang hidup di botol. Pagi masih belia untuk mengenang hal-hal indah, namun tidak dengan pagiku. Pagi yang kuciptakan sendiri dengan secangkir teh, sebatang kretek dan Bumi Manusia. Apakah aku akan melahap semuanya? Tidak, aku tidak serakus itu. Aku hanya melahapnya satu; Buku Bumi Manusia dengan tanda tinggal dari sang pemberi di halaman depan yang kurang lebih bermakna mencintai takdir. Bagaimana dengan secangkir teh dan kretek yang sudah menyala itu? Asapnya menari di atas bara dan aromanya memenuhi Gubuk Semesta. Tidak sebagaimana mestinya, barangkali... aku hanya mencoba mendatangkan hadirmu, aku hanya mencoba menyimbolkan dirimu, ragamu, dengan secangkir kopi dan sebatang kretek. Di pagi ini, aku kembali menghadirkan sebuah simbol rasaku sebagai manusia. Sesuatu yang memuncak di dalam diriku yang pernah aku berikan kepada manusia. Akupun tak tahu disebut apakah sesuatu yang memuncak itu, aku juga bingung dengan analogi-analogi atau idiom-idiom yang dapat menyempurnakannya. Barangkali sederhananya saja, segala rasa yang pernah kurasa; senang, sedih, suka, duka, nestapa, bahagia, rindu, cinta, kasih, dan apapun itu, segala rasa yang pernah kurasa untuknya memuncak dan menggunung. Ya, itulah puncak rasa yang pernah kubangun dalam diriku, yang kini sudah tak bertuan. Bukanlah lagi kapal yang berdermaga atau sebuah anak yang ditimang Ibunya. Puncak rasa itu kini abu-abu dan semakin samar, semakin jauh dibawanya lari. Puncakku, adalah sesuatu yang pernah kubangun dengan media-media kenangan, hari, waktu, percakapan dengan seorang ia. Ia, yang kini menjelma menjadi segelas teh dan sebatang kretek.

Aku mengenalimu sebagai seseorang manusia yang gemar bicara, bicara apapun itu. Jika buku adalah jendela dunia, maka bibirmu adalah Pohon rindang yang selalu berbuah ilmu. Kerap kali aku memetiknya dan menyimpannya di buku harian atau keranjang-keranjang ingatan. Atau sesekali sentilan tentang sebenarnya akulah yang ada di dekatmu, bukan dia, bukan mereka yang akhir-akhir ini menggoda pikiranku. Tidak ada yang salah dari mencinta, tidak ada yang salah jika rasa itu tumbuh di hatimu, dan menggunung di hatiku. Tapi, mengapa menjadi sepamrih itu? Aku sudah mempunyai rumah, mengapa kau bangunkan aku mahligai dan mengajakku tinggal di sana? Apakah... ah apa ya, tidak tidak... hhmm.... aku tidak bisa meninggalkan rumah dan menuju mahligaimu. Dan di sinilah aku bermuara; di Gubuk Semesta. Masih dengan segelas teh dan sebatang kretek yang kini sudah separuh. Aku mengingat lekat-lekat bagaimana kau memegang rokokmu dengan ibu jari dan jari tengah, sedang telunjukmu mengetuk-ngetukkannya di atas asbak, semata untuk menjatuhkan abu yang sudah panjang. Tidakkah kau sadar itu? Kini aku menumpahkan Puncak Rasa itu sedikit saja ke dalam segelas teh. Biarkan kunamai ia sebagai rindu di pagi yang tertutup kabut yang mulai turun ke padang rumput di bawah sana. Sampai-sampai kaca Gubuk Semestaku berembun, tapi tak ada daya aku menulis nama atau sekadar sebutan kau memanggilku. Tanganku dan kepalaku mendekap Bumi Manusia, dan jatuhlah derai-derai sumber air, sedikit membasahi Bumi Manusia. Maafkan aku, Pram.

Aku ingat bagaimana aku menangis sangat keras karena kehilangan. Kau di dekatku, memegang pundakku dan menenangkan. Kini, aku tersedu di hadapanmu, kau yang menjelma menjadi Bumi Manusia, secangkir teh dan sebatang kretek yang hampir habis. Tidak ada tangan, apalagi lengan. Terpaksa kupeluk sendirilah tubuhku ini, kehilanganku ini. Kau kini sudah pergi jauh, barangkali tlah kau robohkan mahligai itu. Kau adalah tamu istimewa dalam hidupku, dan kau kini tak pernah datang lagi. Kau tak pernah datang kepada pesan singkat, kepada sapaan selamat pagi, kepada hasil panen kentang, kepada senja, kepada senyumku atau cemberutku. Kau bergi begitu saja, seperti asap kretek yang dengan liar keluar jendela. Hari-hari sangat berbeda pada akhirnya, kau tiada, aku tiada. Jalan hidup kini kita jalani dengan keheningan, dengan kesunyian masing-masing. Kau tetap saja sama, tertawamu tetap saja sama, pakaianmu, bahkan kretekmu... sungguh alami. Tapi tetap ada yang berbeda, nada bicaramu, genggam tanganmu, dingin, bahkan lebih dingin dari kabut yang mampir ke Gubuk Semestaku kini. Tapi tak mengapa, aku suka melihatmu dari jauh, kerap kali aku menjadi pengintai yang menyamar di balik pohon, di balik kenyataan itu... aku melihatmu. Ternyata bukan Mahligai yang kau bangun, ternyata itu pagar, batas, yang aku tak bisa menyebranginya. Aku kehilangan, jujur saja. Kehilangan seorang manusia yang kuanggap guru hidup dengan segala kejutan. Kini, di sinilah aku bersemayam... di bawah gugusan bintang utara dan diantara padang rumput. Sesekali pintu Gubukku diketuk oleh seseorang berseragam putih dan berkacamata tebal. Ia menyuruhku berbaring dan bercerita, sesekali wajahku banjir oleh air mata, sesekali aku tertawa terbahak-bahak. Terkadang, dengan pemutar Vinyl jadul itu, ia memutar lagu-lagu instrumen yang sungguh tenang, menjinakkan.

Kini, di kesunyian ini... maafkan aku yang sering menghadirkan dirimu dengan beragam kenangan yang masih singgah di kepala. Teh, kretek, Bumi Manusia, dan... satu sayatan agak dalam di nadi kiri. Sudah waktunya aku merelakan perpisahan ini, bukan? Sudah tidak bisa lagi kubangun percakapan mengasyikan dan mengharukan seperti dulu, sebab aku tak pandai berenang untuk menyebrangi pagar yang kini menjadi lautan. Jauh... kau hingga tak nampak. Dan aku tertidur....

***

Namaku Jessica, seseorang memanggilku dengan sebutan yang manis-manis, tapi kau lebih sering memanggilku Jess. Aku tahu, kau selalu lebih awal dari siapa saja. Namun sekarang aku tak bernama, aku kembali menjadi Astavi Analaruna.

Puncak Rasa, Segelas Rindu, dan Perpisahan Tanpa Lengan
Gubuk Semesta,
18 Okt 2015
07:23