Senin, 28 September 2015

Radiohead dan Chrisye dalam Epos Ramayana

          Malam sedikit berlalu dari jam dinding yang menggerakan jarum pendeknya melebihi angka satu. Aku terbangun dari mimpi singkat yang tak kusadari kapan aku mulai terlelap. Aku terbaring dengan kedua tangan di atas perutku dan lampu warna-warni di dinding kamar yang masih terjaga. Pikiranku melayang kepada kisah cinta segitiga, Rahwana – Sinta – Rama. Entahlah, akhir-akhir ini aku banyak memikirkan kisah cinta mereka, kisah yang sungguh memilukan. Ya, tentu saja pilu. Rahwana adalah raksasa bengis dan mengerikan yang jatuh cinta pada Dewi secantik Sinta. Ya, tentu saja Dewi Sinta adalah istri dari Rama, seorang Dewa yang tak mungkin dikalahkan oleh raksasa macam Rahwana. Aku membawa anak-anak anganku berlibur ke Taman Asoka. Ya, tempat Rahwana menyembunyikan Sinta. Di sana, Rahwana kerap menjadi pujangga atau penyanyi dadakan untuk Sinta, dan Rahwana selalu bertanya kepada Sinta “Maukah kau menjadi istriku?”. Meski Rahwana menculiknya ke Kerajaan Alengka, meski Rahwana setiap hari menemui Sinta dan meminang Sinta, meski Rahwana berpuisi atau mendendangkan lagu di hadapan Sinta, tak sekalipun Rahwana menyentuh Sinta. Rahwana menjaga kesucian Sinta dengan cinta kasihnya, Rahwana tak akan menyentuh Sinta sebelum Sinta mengijinkannya. Bukannya jawaban yang akan didapat Rahwana, melainkan malapetaka yang akan menjemputnya. Rahwana akan berperang dengan Rama, dan kemenangan adalah hal mustahil bagi Rahwana. Berkali-kali Sinta berkata kepada Rahwana jika Rahwana tak akan mungkin mengalahkan Rama, Rahwana tak mungkin mengalahkan seorang Dewa. Barangkali jika Rahwana menculik Sinta di tahun 90an, di saat-saat menjelang peperangan dengan Rama, Rahwana akan menyanyikan lagu ini kepada Sinta

When you were here before,
Couldn't look you in the eye,
You're just like an angel,
Your skin makes me cry,
You float like a feather,
In a beautiful world,
I wish I was special,
You're so very special.

Aku memperhatikanmu di Taman Asoka yang indah ini, Sinta. Saat kau tersenyum, saat kau melamun. Aku tak bisa melihat matamu, sebab Purnama sedang mengisi kedua bola matamu. Kau adalah sang Dewi, Sinta... kecantikanmu membuatku luluh dan hanyut. Kau cantik dari yang paling cantik. Kau adalah titisan Dewi Widowati yang dijanjikan para Dewa untukku. Ya, kau adalah Dewi yang dijanjikan kepadaku.

I don't care if it hurts,
I want to have control,
I want a perfect body,
I want a perfect soul,
I want you to notice,
When I'm not around,
You're so very special,
I wish I was special.

Aku tak mengapa jika harus terluka dalam peperangan dengan Rama, suamimu Sinta. Aku tak mengapa jika aku akan mati di tangan suamimu, Sinta. Aku akan mati setelah memperjuangkan cintaku kepadamu. Siapalah aku, aku hanyalah raksasa yang tak setampan Rama. Aku juga ingin setampan Rama, aku juga ingin berjiwa ksatria layaknya Rama, suamimu Sinta. Apakah pernah terbesit di hatimu, bahwa kau merindukan aku, Rahwana... saat aku tak berpuisi atau bernyanyi di hadapanmu, apakah kau merindukan aku? Kau sungguh cantik, sungguh cantik sekali Sinta. Aku mencintaimu... maukah kau jadi istriku?

But I'm a creep, I'm a weirdo,
What the hell am I doing here?
I don't belong here.

Tapi aku tetaplah Raksasa, Sinta. Aku bukan Rama, aku tak tampan dan aku tak ksatria. Aku adalah Rahwana, Rahwana adalah raksasa, Sinta. Apa yang sebenarnya kulakukan di Kerajaan Alengka ini? Menyembunyikanmu sementara? Mungkin aku tak pantas berada di sini menyekapmu, aku pantas berada di medan perang dan berperang mempertahankan cintaku kepadamu.

Sintapun menengadah. Esok, tidak akan lagi Sinta jumpai sosok yang selalu menghiburnya. Rahwana akan berperang dengan Rama, dan Sinta jelas tidak akan pernah bertemu lagi dengan Rahwana. Rahwana akan mati, Sinta. Barangkali saat terakhir kali Sinta melihat Rahwana berjalan menuju medan perang, di Taman Asoka itu Sinta membalas nyanyian Rahwana

Bukan maksud aku
membawa dirimu
masuk terlalu jauh
ke dalam kisah cinta
yang tak mungkin terjadi

Dan aku tak punya hati
untuk menyakiti dirimu
dan Aku tak punya hati
tuk mencintai
dirimu yang slalu
mencintai diriku
walau kau tahu diriku masih bersamanya

Sinta menangis. Perang berkecamuk di luar sana. Rahwana, menggenggam Maha Cintanya kepada Sinta. Membawanya berperang melawan suami Sinta. Sinta menangis, pilu... suara peperangan perlahan reda, Rama menjemput Sinta dan Rahwana mati mengenggam cinta.

***

Sekembalinya Sinta ke dalam pelukan Rama, Rama meragukan kesucian Sinta. 3 tahun lamanya ia diculik oleh Rahwana, dan kini Sinta hamil. Sinta menampik tuduhan Rama, dan Ramapun menginginkan bukti. Ke dalam pusaran api itulah Sinta harus meneggelamkan dirinya. Jika Sinta selamat maka tuduhan Rama tiadalah arti, jika tidak maka Sinta akan dimakan murka api. Akhirnya dengan disaksikan dengan banyak pasang mata, Sinta menceburkan diri ke dalam api, namun sampai api itu habis Sinta tak terluka sedikitpun. Sungguh Maha Cinta Rahwana yang tidak sekalipun menyentuh Sinta. Rama, tidak puas dengan pembuktian Sinta. Akhirnya, kepada adiknya, Lesmana... Rama menyuruhnya untuk membunuh Sinta. Gejolak ada pada diri Lesmana, bagaimana bisa Lesmana membunuh istri kakaknya, tapi tidak mungkin juga mengingkari permintaan kakanya sendiri.

Lesmana mengajak Sinta ke tengah hutan dan menceritakan apa yang sebenarnya. Sinta menangis sejadi-jadinya, Lesmana tiada tega. Dibangunkannya sebuah rumah di tengah hutan untuk Sinta, dan Lesamana memanipulasi darah Sinta dengan darah Kijang yang dipanahnya. Rama percaya kepada darah dalam panah Lesmana. Namun jauh di tengah hutan, Sinta sendirian dan sudah hamil besar, dan tibalah saat ia melahirkan, dengan susah payah dan tiada bantuan, Sinta berusaha melahirkan buah hatinya. Tak disangka tak dinyana, keluarlah anak kembar dari rahim Sinta. Sinta sudah tidak berdaya setelah momen-momen sakral tersebut. Rahwana, yang membawa cinta bersama kematiannya tak tega melihat Sinta yang kesakitan. Rahwana keluar dari Dhurma dan menyelamatkan anak kembar Sinta dan menyerahkan kepada Valmiki untuk diasuh. Sebegitu besar cinta Rahwana, sampai-sampai di alam yang berbeda sekalipun, Rahwana tetap memperhatikan Sinta, Rahwana menyelamatkan Sinta. Siapa yang kini jahat dan bengis? Raksasa yang jatuh cinta, atau Dewa yang membunuh istrinya?

Barangkali sekali lagi Sinta akan bernyanyi..

Andai aku bisa
memutar kembali
waktu yang tlah berjalan
tuk kembali bersama
di dirimu slamanya....


Matahari terbit dan masuk melalui kaca jendelaku. Lampu-lampu masih menyanyikan warnanya, dan posisi tidurku kini memeluk bantal. Ah, apa aku yang terlalu melankolik? Apakah aku terlalu menjiwai Sinta hingga bantal itu serupa Rahwana. Ah, aku berkhayal saja. Pagi datang dan semua kembali seperti biasa, akupun masih kepikiran Rahwana.  

Sept/15

Minggu, 27 September 2015

Kepala Batu

Ada kerusuhan
di dalam kepalaku
Memberontak
Ingin dikeluarkannya sebagian
Isi dan kenangan
Ingin kulepas
Dan kutukar dengan batu
Agar aku tak bisa merasakan nyeri

Nyeri, sungguh nyeri yang aduhai
Bukan karena bahan kimia
Atau hal-hal yang dilarang oleh negara ini
Yang masuk meracuni otakku
Namun karena kau,
Manusia
Persetan

Aku
Tak sanggup bernafas
Jantungku dicuri teman
Kepalaku jadi batu

Jumat, 25 September 2015

Jangan Ada Tanya


Aku bersedih
jangan tanyakan mengapa
Aku menangis
jangan tanyakan apa sebabnya
Aku menari
jangan tanyakan iramanya
Aku tertawa
jangan tanyakan seberapa kocaknya
Aku hidup
jangan tanyakan apa gunanya

Aku bersedih puan dan nyonya!
Dunia sedang tidak baik-baik saja
Nikmatilah kebahagiaanmu sendiri
Nasib adalah kesunyian masing-masing- jika kata Chairil Anwar
Biarlah aku jadi bajingan malam
Yang mengadu dan telanjang pada Bulan!

Kamis, 24 September 2015

Aku Ingin Telanjang!

Aku ingin telanjang di hadapan Bulan
Ia tahu,
kerap kali kusembunyikan secarik puisi palsu
tentang kenangan
tentang kebahagiaan
yang kukarang indah dengan analogi-analogi basi
sebab aku suka mengarang
dan membuat hal-hal buruk
menjadi nampak tak begitu buruk
Namun Bulan tidak percaya
ia tahu dan terlampau tahu tentang kesedihanku
aku murung
aku menangis
dan Bulan tertawa.

Sindy Asta
September 2015