Malam sedikit berlalu dari jam dinding
yang menggerakan jarum pendeknya melebihi angka satu. Aku terbangun
dari mimpi singkat yang tak kusadari kapan aku mulai terlelap. Aku
terbaring dengan kedua tangan di atas perutku dan lampu warna-warni
di dinding kamar yang masih terjaga. Pikiranku melayang kepada kisah
cinta segitiga, Rahwana – Sinta – Rama. Entahlah, akhir-akhir ini
aku banyak memikirkan kisah cinta mereka, kisah yang sungguh
memilukan. Ya, tentu saja pilu. Rahwana adalah raksasa bengis dan
mengerikan yang jatuh cinta pada Dewi secantik Sinta. Ya, tentu saja
Dewi Sinta adalah istri dari Rama, seorang Dewa yang tak mungkin
dikalahkan oleh raksasa macam Rahwana. Aku membawa anak-anak anganku
berlibur ke Taman Asoka. Ya, tempat Rahwana menyembunyikan Sinta. Di
sana, Rahwana kerap menjadi pujangga atau penyanyi dadakan untuk
Sinta, dan Rahwana selalu bertanya kepada Sinta “Maukah kau menjadi
istriku?”. Meski Rahwana menculiknya ke Kerajaan Alengka, meski
Rahwana setiap hari menemui Sinta dan meminang Sinta, meski Rahwana
berpuisi atau mendendangkan lagu di hadapan Sinta, tak sekalipun
Rahwana menyentuh Sinta. Rahwana menjaga kesucian Sinta dengan cinta
kasihnya, Rahwana tak akan menyentuh Sinta sebelum Sinta
mengijinkannya. Bukannya jawaban yang akan didapat Rahwana, melainkan
malapetaka yang akan menjemputnya. Rahwana akan berperang dengan
Rama, dan kemenangan adalah hal mustahil bagi Rahwana. Berkali-kali
Sinta berkata kepada Rahwana jika Rahwana tak akan mungkin
mengalahkan Rama, Rahwana tak mungkin mengalahkan seorang Dewa.
Barangkali jika Rahwana menculik Sinta di tahun 90an, di saat-saat
menjelang peperangan dengan Rama, Rahwana akan menyanyikan lagu ini
kepada Sinta
When you were here before,
Couldn't look you in the eye,
You're just like an angel,
Your skin makes me cry,
You float like a feather,
In a beautiful world,
I wish I was special,
You're so very special.
Aku memperhatikanmu di Taman Asoka
yang indah ini, Sinta. Saat kau tersenyum, saat kau melamun. Aku tak
bisa melihat matamu, sebab Purnama sedang mengisi kedua bola matamu.
Kau adalah sang Dewi, Sinta... kecantikanmu membuatku luluh dan
hanyut. Kau cantik dari yang paling cantik. Kau adalah titisan Dewi
Widowati yang dijanjikan para Dewa untukku. Ya, kau adalah Dewi yang
dijanjikan kepadaku.
I don't care if it hurts,
I want to have control,
I want a perfect body,
I want a perfect soul,
I want you to notice,
When I'm not around,
You're so very special,
I wish I was special.
Aku tak mengapa jika harus terluka
dalam peperangan dengan Rama, suamimu Sinta. Aku tak mengapa jika aku
akan mati di tangan suamimu, Sinta. Aku akan mati setelah
memperjuangkan cintaku kepadamu. Siapalah aku, aku hanyalah raksasa
yang tak setampan Rama. Aku juga ingin setampan Rama, aku juga ingin
berjiwa ksatria layaknya Rama, suamimu Sinta. Apakah pernah terbesit
di hatimu, bahwa kau merindukan aku, Rahwana... saat aku tak berpuisi
atau bernyanyi di hadapanmu, apakah kau merindukan aku? Kau sungguh
cantik, sungguh cantik sekali Sinta. Aku mencintaimu... maukah kau
jadi istriku?
But I'm a creep, I'm a weirdo,
What the hell am I doing here?
I don't belong here.
Tapi aku tetaplah Raksasa, Sinta.
Aku bukan Rama, aku tak tampan dan aku tak ksatria. Aku adalah
Rahwana, Rahwana adalah raksasa, Sinta. Apa yang sebenarnya kulakukan
di Kerajaan Alengka ini? Menyembunyikanmu sementara? Mungkin aku tak
pantas berada di sini menyekapmu, aku pantas berada di medan perang
dan berperang mempertahankan cintaku kepadamu.
Sintapun
menengadah. Esok, tidak akan lagi Sinta jumpai sosok yang selalu
menghiburnya. Rahwana akan berperang dengan Rama, dan Sinta jelas
tidak akan pernah bertemu lagi dengan Rahwana. Rahwana akan mati,
Sinta. Barangkali saat terakhir kali Sinta melihat Rahwana
berjalan menuju medan perang, di Taman Asoka itu Sinta membalas
nyanyian Rahwana
Bukan maksud aku
membawa dirimu
masuk terlalu jauh
ke dalam kisah
cinta
yang tak mungkin
terjadi
Dan aku tak punya
hati
untuk menyakiti
dirimu
dan Aku tak punya
hati
tuk mencintai
dirimu yang slalu
mencintai diriku
walau kau tahu
diriku masih bersamanya
Sinta menangis.
Perang berkecamuk di luar sana. Rahwana, menggenggam Maha Cintanya
kepada Sinta. Membawanya berperang melawan suami Sinta. Sinta
menangis, pilu... suara peperangan perlahan reda, Rama menjemput
Sinta dan Rahwana mati mengenggam cinta.
***
Sekembalinya Sinta
ke dalam pelukan Rama, Rama meragukan kesucian Sinta. 3 tahun lamanya
ia diculik oleh Rahwana, dan kini Sinta hamil. Sinta menampik tuduhan
Rama, dan Ramapun menginginkan bukti. Ke dalam pusaran api itulah
Sinta harus meneggelamkan dirinya. Jika Sinta selamat maka tuduhan
Rama tiadalah arti, jika tidak maka Sinta akan dimakan murka api.
Akhirnya dengan disaksikan dengan banyak pasang mata, Sinta
menceburkan diri ke dalam api, namun sampai api itu habis Sinta tak
terluka sedikitpun. Sungguh Maha Cinta Rahwana yang tidak sekalipun
menyentuh Sinta. Rama, tidak puas dengan pembuktian Sinta. Akhirnya,
kepada adiknya, Lesmana... Rama menyuruhnya untuk membunuh Sinta.
Gejolak ada pada diri Lesmana, bagaimana bisa Lesmana membunuh istri
kakaknya, tapi tidak mungkin juga mengingkari permintaan kakanya
sendiri.
Lesmana mengajak
Sinta ke tengah hutan dan menceritakan apa yang sebenarnya. Sinta
menangis sejadi-jadinya, Lesmana tiada tega. Dibangunkannya sebuah
rumah di tengah hutan untuk Sinta, dan Lesamana memanipulasi darah
Sinta dengan darah Kijang yang dipanahnya. Rama percaya kepada darah
dalam panah Lesmana. Namun jauh di tengah hutan, Sinta sendirian dan
sudah hamil besar, dan tibalah saat ia melahirkan, dengan susah payah
dan tiada bantuan, Sinta berusaha melahirkan buah hatinya. Tak
disangka tak dinyana, keluarlah anak kembar dari rahim Sinta. Sinta
sudah tidak berdaya setelah momen-momen sakral tersebut. Rahwana,
yang membawa cinta bersama kematiannya tak tega melihat Sinta yang
kesakitan. Rahwana keluar dari Dhurma dan menyelamatkan anak kembar
Sinta dan menyerahkan kepada Valmiki untuk diasuh. Sebegitu besar
cinta Rahwana, sampai-sampai di alam yang berbeda sekalipun, Rahwana
tetap memperhatikan Sinta, Rahwana menyelamatkan Sinta. Siapa yang
kini jahat dan bengis? Raksasa yang jatuh cinta, atau Dewa yang
membunuh istrinya?
Barangkali sekali
lagi Sinta akan bernyanyi..
Andai aku bisa
memutar kembali
waktu yang tlah berjalan
tuk kembali bersama
di dirimu slamanya....
Matahari terbit dan
masuk melalui kaca jendelaku. Lampu-lampu masih menyanyikan warnanya,
dan posisi tidurku kini memeluk bantal. Ah, apa aku yang terlalu
melankolik? Apakah aku terlalu menjiwai Sinta hingga bantal itu
serupa Rahwana. Ah, aku berkhayal saja. Pagi datang dan semua kembali
seperti biasa, akupun masih kepikiran Rahwana.
Sept/15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar