Senin, 19 Oktober 2015

Puncak Rasa, Segelas Rindu, dan Perpisahan Tanpa Lengan

Secangkir teh, sebatang kretek, dan buku Pram; Bumi Manusia, menjadi penghuni utama di meja usang Gubuk Semesta pagi hari ini. Kupandangi hamparan padan rumput nan luas di bawah sana, dari balik jendela yang kuhias dengan tanaman-tanaman yang hidup di botol. Pagi masih belia untuk mengenang hal-hal indah, namun tidak dengan pagiku. Pagi yang kuciptakan sendiri dengan secangkir teh, sebatang kretek dan Bumi Manusia. Apakah aku akan melahap semuanya? Tidak, aku tidak serakus itu. Aku hanya melahapnya satu; Buku Bumi Manusia dengan tanda tinggal dari sang pemberi di halaman depan yang kurang lebih bermakna mencintai takdir. Bagaimana dengan secangkir teh dan kretek yang sudah menyala itu? Asapnya menari di atas bara dan aromanya memenuhi Gubuk Semesta. Tidak sebagaimana mestinya, barangkali... aku hanya mencoba mendatangkan hadirmu, aku hanya mencoba menyimbolkan dirimu, ragamu, dengan secangkir kopi dan sebatang kretek. Di pagi ini, aku kembali menghadirkan sebuah simbol rasaku sebagai manusia. Sesuatu yang memuncak di dalam diriku yang pernah aku berikan kepada manusia. Akupun tak tahu disebut apakah sesuatu yang memuncak itu, aku juga bingung dengan analogi-analogi atau idiom-idiom yang dapat menyempurnakannya. Barangkali sederhananya saja, segala rasa yang pernah kurasa; senang, sedih, suka, duka, nestapa, bahagia, rindu, cinta, kasih, dan apapun itu, segala rasa yang pernah kurasa untuknya memuncak dan menggunung. Ya, itulah puncak rasa yang pernah kubangun dalam diriku, yang kini sudah tak bertuan. Bukanlah lagi kapal yang berdermaga atau sebuah anak yang ditimang Ibunya. Puncak rasa itu kini abu-abu dan semakin samar, semakin jauh dibawanya lari. Puncakku, adalah sesuatu yang pernah kubangun dengan media-media kenangan, hari, waktu, percakapan dengan seorang ia. Ia, yang kini menjelma menjadi segelas teh dan sebatang kretek.

Aku mengenalimu sebagai seseorang manusia yang gemar bicara, bicara apapun itu. Jika buku adalah jendela dunia, maka bibirmu adalah Pohon rindang yang selalu berbuah ilmu. Kerap kali aku memetiknya dan menyimpannya di buku harian atau keranjang-keranjang ingatan. Atau sesekali sentilan tentang sebenarnya akulah yang ada di dekatmu, bukan dia, bukan mereka yang akhir-akhir ini menggoda pikiranku. Tidak ada yang salah dari mencinta, tidak ada yang salah jika rasa itu tumbuh di hatimu, dan menggunung di hatiku. Tapi, mengapa menjadi sepamrih itu? Aku sudah mempunyai rumah, mengapa kau bangunkan aku mahligai dan mengajakku tinggal di sana? Apakah... ah apa ya, tidak tidak... hhmm.... aku tidak bisa meninggalkan rumah dan menuju mahligaimu. Dan di sinilah aku bermuara; di Gubuk Semesta. Masih dengan segelas teh dan sebatang kretek yang kini sudah separuh. Aku mengingat lekat-lekat bagaimana kau memegang rokokmu dengan ibu jari dan jari tengah, sedang telunjukmu mengetuk-ngetukkannya di atas asbak, semata untuk menjatuhkan abu yang sudah panjang. Tidakkah kau sadar itu? Kini aku menumpahkan Puncak Rasa itu sedikit saja ke dalam segelas teh. Biarkan kunamai ia sebagai rindu di pagi yang tertutup kabut yang mulai turun ke padang rumput di bawah sana. Sampai-sampai kaca Gubuk Semestaku berembun, tapi tak ada daya aku menulis nama atau sekadar sebutan kau memanggilku. Tanganku dan kepalaku mendekap Bumi Manusia, dan jatuhlah derai-derai sumber air, sedikit membasahi Bumi Manusia. Maafkan aku, Pram.

Aku ingat bagaimana aku menangis sangat keras karena kehilangan. Kau di dekatku, memegang pundakku dan menenangkan. Kini, aku tersedu di hadapanmu, kau yang menjelma menjadi Bumi Manusia, secangkir teh dan sebatang kretek yang hampir habis. Tidak ada tangan, apalagi lengan. Terpaksa kupeluk sendirilah tubuhku ini, kehilanganku ini. Kau kini sudah pergi jauh, barangkali tlah kau robohkan mahligai itu. Kau adalah tamu istimewa dalam hidupku, dan kau kini tak pernah datang lagi. Kau tak pernah datang kepada pesan singkat, kepada sapaan selamat pagi, kepada hasil panen kentang, kepada senja, kepada senyumku atau cemberutku. Kau bergi begitu saja, seperti asap kretek yang dengan liar keluar jendela. Hari-hari sangat berbeda pada akhirnya, kau tiada, aku tiada. Jalan hidup kini kita jalani dengan keheningan, dengan kesunyian masing-masing. Kau tetap saja sama, tertawamu tetap saja sama, pakaianmu, bahkan kretekmu... sungguh alami. Tapi tetap ada yang berbeda, nada bicaramu, genggam tanganmu, dingin, bahkan lebih dingin dari kabut yang mampir ke Gubuk Semestaku kini. Tapi tak mengapa, aku suka melihatmu dari jauh, kerap kali aku menjadi pengintai yang menyamar di balik pohon, di balik kenyataan itu... aku melihatmu. Ternyata bukan Mahligai yang kau bangun, ternyata itu pagar, batas, yang aku tak bisa menyebranginya. Aku kehilangan, jujur saja. Kehilangan seorang manusia yang kuanggap guru hidup dengan segala kejutan. Kini, di sinilah aku bersemayam... di bawah gugusan bintang utara dan diantara padang rumput. Sesekali pintu Gubukku diketuk oleh seseorang berseragam putih dan berkacamata tebal. Ia menyuruhku berbaring dan bercerita, sesekali wajahku banjir oleh air mata, sesekali aku tertawa terbahak-bahak. Terkadang, dengan pemutar Vinyl jadul itu, ia memutar lagu-lagu instrumen yang sungguh tenang, menjinakkan.

Kini, di kesunyian ini... maafkan aku yang sering menghadirkan dirimu dengan beragam kenangan yang masih singgah di kepala. Teh, kretek, Bumi Manusia, dan... satu sayatan agak dalam di nadi kiri. Sudah waktunya aku merelakan perpisahan ini, bukan? Sudah tidak bisa lagi kubangun percakapan mengasyikan dan mengharukan seperti dulu, sebab aku tak pandai berenang untuk menyebrangi pagar yang kini menjadi lautan. Jauh... kau hingga tak nampak. Dan aku tertidur....

***

Namaku Jessica, seseorang memanggilku dengan sebutan yang manis-manis, tapi kau lebih sering memanggilku Jess. Aku tahu, kau selalu lebih awal dari siapa saja. Namun sekarang aku tak bernama, aku kembali menjadi Astavi Analaruna.

Puncak Rasa, Segelas Rindu, dan Perpisahan Tanpa Lengan
Gubuk Semesta,
18 Okt 2015
07:23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar